Pages

Labels

Monday, November 17, 2014

Ratunya ialah kamu


Di persimpangan taman, kudapati dirimu layu
Dengan memudarnya rona manismu
Dengan menguncupnya mahkota indahmu


Semakin jauh ku berjalan, semakin banyak ku temui yang sepertimu

Hei, bisa kah kamu menjelaskan...
Persimpangan taman apa yang sedang ku tapaki?
Dimensi mana yang sedang menusuk sukmaku?

Keadaaan ini apakah sebuah kutukan?
Entahlah, aku hanya yakin, kamu bunga terindah di taman ini
Ratunya ialah kamu
Maka, tak heran jika sekitarmu layu karena alasannya ialah kamu

Walau taman ini sudah kamu sulap
Bolehkah ku meminta?
Sebagai tamu di tamanmu

Ku meminta untuk menjadi
Menjadi pupuk untukmu
Menjadi air untukmu
Menjadi cahaya untukmu

Agar yang layu menjadi merekah
Agar kamu menjadi kamu
Ratunya taman ini ...

gambar: http://komikmuslimah.blogspot.com

I.S.T.I.Q.O.M.A.H

gambar: http://komikmuslimah.blogspot.com

Mencarinya perlu melewati beberapa dimensi ruang dan waktu.
Memilikinya perlu energi dan amunisi bergizi.
Agar yang dicari hanya untuk mendapat barokahNya.
Agar yang termiliki hanya untuk menghabiskan sisa perjalanan bertemu denganNya.
Ialah yang bernama Istiqamah, yang menegakkan dan meluruskan...

Wednesday, November 12, 2014

Ayahanda Tercinta

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu bakti kami
Untukmu jiwa dan bakti kami
Duhai Ayahanda tercinta

Untukmu jiwa-jiwa kami
Untukmu bakti kami
Untukmu jiwa dan bakti kami
Duhai Ayahanda tercinta

Kami akan berjuang
Demi selangit kepercayaanmu
Kami rela berkorban
Demi titian juangmu

Untukmu, Ayahanda tercinta
Kami penuhi harapanmu
Untukmu, Ayahanda yang hebat
Kami kan terus bersamamu

Untukmu, Ayahanda tercinta
Kami penuhi kebahagiaanmu
Untukmu, Ayahanda yang gagah
Kami kan terus bersamamu

Ya Robbi, izinkanlah kami
Mengukir senyum indah di wajahnya

Ya Alloh, masukkanlah kami
Tercatat sebagai keluarga-Mu di Jannah
Tercatat sebagai keluarga-Mu di Jannah
Tercatat sebagai keluarga-Mu di Jannah ....


* dalam pelukan matahari di rona pagi-Mu
Rabu, 12 November 2014
anak gadismu, Naya ...

Saturday, June 15, 2013

#SKRIPSWEET

Bismillaahirrahmanirrahiim

Teruntuk diri ini
Teruntuk teman seperjuangan
Teruntuk teman dalam kebermanfaatan
Teruntuk "ia" yang bernama #SKRIPSWEET

Terkutip dari Anies Baswedan tentang #SKRIPSWEET
Mari disimak dihayati diaplikasikan...
Untuk diri ini, sejenak terhentak, sejenak merenungi, sejenak berkaca hati dalam perjalanan ini

1. Menulis #SKRIPSWEET adalah menaklukan diri sendiri
Terkadang selalu berpikir untuk bagaimana caranya menaklukan DP, ternyata indikator yang terbaik adalah menaklukan diri sendiri lebih utama

"... Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (Q.S Ar Ra'd : 11)

2. Cara mengerjakan #SKRIPSWEET adalah potret diri penulisnya saat senyatanya kerja mandiri
Bagaimana mengatur ketawazunan diri, memanajemen diri, waktu, dan prioritas?

3. #SKRIPSWEET bukan sekadar soal riset; #SKRIPSWEET adalah simulasi cara berkarya/bekerja setelah lulus kuliah
Akan seperti apa nanti setelah lulus? Berujung kebermanfaatan kah?

Romantisme Ukhuwah


Romantisme ukhuwah adalah hal yang membuatku selalu iri kepada Abu Bakar, sebagaimana Ia begitu cinta kepada Umar...

Suatu hari, demikian dikisahkan Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Abu Bakar berjalan mendatangi majelis Rasulullah. Dia tampak menjinjing kainnya, terlunjak jalannya, tertampak lututnya, dan gemetar tubuhnya. "Sahabat kalian ini," sabda Sang Nabi pada sahabat yang sedang duduk begitu melihat Abu Bakar datang, "sedang kesal hati. Maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya."

Abu Bakar bersimpuh lalu menggenggam tangan Sang Nabi. Ditatapnya mata suci itu dalam-dalam. "Antara aku dan putra Al-Khattab," lirihnya, "ada kesalahpahaman. Lalu dia marah dan menutup pintu rumah. Aku merasa menyesal. Maka kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulang kali untuk memohon maafnya. Tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan."
Tepat ketika Abu Bakar selesai berkisah, 'Umar ibn Al-Khaththab datang dengan resah."Sungguh aku diutus pada kalian," Sang Nabi bersabda menghardik, "Lalu kalian berkata: 'Engkau Dusta!'Wajah beliau tampak memerah, campuran antara murka dan rasa malunya yang lebih dalam dibanding gadis dalam pingitan."Hanya Abu Bakar seorang", sambung beliau, "Yang langsung mengiyakan, 'Engkau benar!' . Lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?"
'Umar berlinang, beristighfar, dan berjalan simpuh mendekat. Tetapi tangis Abu Bakar lebih keras, derai air matanya bagai kaca jendela lepas. "Tidak, ya Rasulullah. Tidak. Ini bukan salahnya," serunya terpatah-patah isak. "Demi Allah akulah memang yang keterlaluan." Lalu dia memeluk 'Umar, menenangkan bahu yang terguncang. Mereka menyatukan rasa dalam dekapan ukhuwah, menyembuhkan luka-luka.
(Dalam Dekapan Ukhuwah, hal 388-389)