Pages

Labels

Sunday, April 1, 2012

PERBEDAAN ANTARA KARANGAN ILMIAH, NON ILMIAH, DAN SEMI ILMIAH.

Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Dalam artikel ini akan dibahas tentang 3 jenis karangan, yaitu: karangan ilmiah, karangan non ilmiah, dan karangan semi ilmiah. Berikut ini penjelasannya.

I. Karangan ilmiah

Karangan ilmiah adalah biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

Ada berbagai jenis karya ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah tersebut dijadikan acuan bagi ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya.

Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Skripsi umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil, tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu, makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis oleh para pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian.

Tujuan karya ilmiah, antara lain:

· Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.

  • Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
  • Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
  • Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.
  • Melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.

Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:

· Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;

· Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;

· Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;

· Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;

· Memperoleh kepuasan intelektual;

· Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan;

· Sebagai bahan acuan/penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya

II. Karangan Non Ilmiah

Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).

Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah, yaitu:

· Ditulis berdasarkan fakta pribadi,

· Fakta yang disimpulkan subyektif,

· Gaya bahasa konotatif dan populer,

· Tidak memuat hipotesis,

· Penyajian dibarengi dengan sejarah,

· Bersifat imajinatif,

· Situasi didramatisir,

· Bersifat persuasif.

· Tanpa dukungan bukti

Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah, yaitu:

· Dongeng

· Cerpen

· Novel

· Drama

· Roman.

III. Karangan Semi Ilmiah

Karya tulis semi ilmiah merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan yang ditulis dengan bahasa konkret dan formal, kata-katanya teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya. Karya tulis ini juga merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan dalam kary tulis ini. Karya tulis semi ilmiah biasanya digunakan dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.

IV. Perbedaan Karya Ilmiah dengan Nonilmiah

Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.

1. Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi.

2. Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.

3. Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.

Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semiilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semiilmiah.

Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.

Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat, antara lain :

1. Emotif : merupakan kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi

2. persuasif : merupakan penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative

3. Deskriptif : merupakan pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan

4. Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.

Simpulan

Karangan merupakan karya tulis yang disusun berdasarkan kumpulan-kumpulan fakta ataupun tidak dan dirangkum dalam sebuah karya tulis dengan menggunakan metode tertentu sesuai kebutuhan karangan tersebut, apakah penulis akan membuat karangan ilmiah, semi ilmiah/populer atau non ilmiah.

Karangan yang baik akan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, antara lain :

1. Karangan Ilmiah Yaitu :

a. Sistematis

b. Objektif

c. Cermat, tepat, dan benar

d. Tidak persuasif

e. Tidak argumentatif

f. Tidak emotif

g. Tidak mengejar keuntungan sendiri

h. Tidak melebih-lebihkan sesuatu.

2. Karangan Semi Ilmiah/Populer :

a. Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi

b. Fakta yang disimpulkan subyektif

c. Gaya bahasa formal dan popular

d. Mementingkan diri penulis

e. Melebihkan-lebihkan sesuatu

f. Usulan-usulan bersifat argumentatif, dan

g. Bersifat persuasif.

3. Karangan Non Ilmiah :

a. Ditulis berdasarkan fakta pribadi

b. Fakta yang disimpulkan subyektif

c. Gaya bahasa konotatif dan populer

d. Tidak memuat hipotesis

e. Penyajian dibarengi dengan sejarah

f. Bersifat imajinatif

g. Situasi didramatisir, dan

h. Bersifat persuasif.

V. Perbedaan Karya Ilmiah dengan Semi ilmiah

“Kecermatan dalam berbahasa mencerminkan ketelitian dalam berpikir” adalah slogan yang harus dipahami dan diterapkan oleh seorang penulis. Melalui kecermatan bahasa gagasan atau ide-ide kita akan tersampaikan. Oleh karena itu, penguasaan bahasa amat diperlukan ketika Anda menulis.
Bahasa dalam karangan ilmiah menggunakan ragam bahasa Indonesia resmi. Ciri-ciri ragam resmi yaitu menerapkan kesantunan ejaan (EYD/Ejaan Yang Disempurnakan), kesantunan diksi, kesantunan kalimat, kesantunan paragraph, menggunakan kata ganti pertama “penulis”, bukan saya, aku, kami atau kita, memakai kata baku atau istilah ilmiah, bukan popular, menggunakan makna denotasi, bukan konotasi, menghindarkan pemakaian unsur bahasa kedaerahan, dan mengikuti konvensi penulisan karangan ilmiah.
Terdapat tiga bagian dalam konvensi penulisan karangan ilmiah, yaitu bagian awal karangan (preliminaries), bagian isi (main body), dan bagian akhir karangan (reference matter).

Berbeda dengan karangan ilmiah, bahasa dalam karangan semiilmiah/ilmiah popular dan nonilmiah melonggarkan aturan, seperti menggunakan kata-kata yang bermakna konotasi dan figurative, menggunakan istilah-istilah yang umum atau popular yang dipahami oleh semua kalangan, dan menggunakan kalimat yang kurang efektif seperti pada karya sastra.

Berikut perbandingan istilah ilmiah dan semi ilmiah/popular.

Kata Ilmiah

· Metode

· Prosedur

· Sahih

· Fonem

· Populasi

· Stadium

· Karbon

· Produk

· Volume

· Makro

· Paradigma

Kata Populer

· Cara

· Langkah-langkah

· Sah

· Bunyi

· Penduduk

· Tahapan

· Orang

· Hasil

· Isi

· Besar

· Pandangan

Sumber tulisan:

1. http://ami26chan.wordpress.com/2011/03/08/karya-non-ilmiah/ diakses pada tanggal 01 April 2012

2. http://id.wikipedia.org/wiki/ diakses pada tanggal 01 April 2012

3. http://rachmandianto.blog.com/2011/05/25/tulisan-%E2%80%9Cperbedaan-karangan-ilmiah-semi-ilmiah-dan-non-ilmiah%E2%80%9D/ diakses pada tanggal 01 April 2012

Tuesday, March 6, 2012

Siapa saya ?!

Assalaamu’alaykum Warohmatullaah Wabarokaatuh…

Pembaca, terima kasih, sudah bersedia mengunjungi singgasana maya saya ini. Semoga singgasana ini bernilai kebermanfaatan bagiku, bagimu dan bagi kita semua.

Sedikit tentang saya...
Kamu bisa panggil saya Nadia. Ya, cukup Nadia saja. Mari saya ajak kalian menelusuri ruang hidup saya :)


Saya dan arti nama.

Nama lengkap saya adalah Nadia Achya. Nama saya ini memiliki makna harapan hidup. Begitulah arti dari orang-orang terdekat saya. Entahlah apa pasti atau tidak pasti akan arti tersebut, yang terpenting saya adalah Nadia. Seorang perempuan yang ingin terus memperbaiki diri.


Saya dan keluarga.

Keluarga adalah tempat labuhan hati setelah Sang Pencipta. Saya anak pertama dari 4 bersaudara. Alhamdulillah kedua orangtua saya menghadirkan adik kecil pada bulan Mei tahun lalu di keluarga kami. Harapan saya akan adik kecil ini adalah seorang perempuan. Tapi Allah menghendaki lain, jadi lengkaplah sudah saya tetap memegang julukan "anak tercantik" di keluarga saya. Itu berarti ketiga adik lelaki saya adalah jagoan yang menjaga saya, ;).


Saya dan pendidikan.

Alhamdulillah, status saya sekarang mahasiswi Sistem Informasi, semester 6 di Universitas Gunadarma. Jejak saya diawali dengan belajar di TK Rigatrik-Jakarta, SDN 05-Jakarta dan 01-Depok, SLTPN 131-Jakarta, SMAN 49-Jakarta. Saya menempati 2 SD, karena status saya saat kelas 4 SD sudah merantau ke Depok :).


Saya dan programmer.

Pada semester 5, alhamdulillah saya terdaftar menjadi Programmer atau IT-Support di Laboratorium Mmanajemen Menengah Universitas Gunadarma. Dimulai dari sini, saya makin menikmati dunia IT. Belajar dari latihan, mandiri, tanya teman, membuat saya makin menyelami bahwa ilmu itu berkah jika kita niatkan dengan baik dan benar.


Saya dan organisasi.

Saya ini senang berorganisasi, jejak saya di organisasi dimulai dari yang terkecil. Menjadi sekretaris kelas, kemudian saya mengenal OSIS, MPK, dan ROHIS di SMA saya. Saya mengeksplor diri saya lagi di perkuliahan dengan mengikuti salah satu UKM, yakni UKM Fajrul Islam. Bagi saya organisasi adalah ruh kehidupan, sebagian besar pengalaman saya didapat dari berorganisasi. Dimulai dari adaptasi dengan rekan-rekan, belajar memimpin, siap dipimpin, mengorganisasi kegiatan, mendapatkan ilmu yang tidak saya dapatkan di kelas. Organisasi membuat life skill saya bertahap untuk mengorganisir kehidupan ini dengan baik.


Saya dan dakwah.

Dakwah, nama yang sudah saya sering dengar semenjak SMA, saya mengenal kata ini dari program pekanan ROHIS SMA yakni mentoring. Mentoring merupakan salah satu sarana yang di dalamnya terdapat proses belajar. Orientasi dari mentoring itu adalah pembentukan karakter dan kepribadian seseorang sebagai mentee (peserta mentoring) karena adanya seorang mentor (orang yang mengajar/membina) dalam suatu wadah atau organisasi. Status saya adalah peserta mentoring, dimana saya dan teman-teman dibuat satu kelompok yang diajarkan oleh kakak alumni SMA saya. Disana saya diajarkan bagaimana Allah sangat memberikan rahmatNya yang begitu banyak, bagaimana Islam itu sangat indah, bagaimana kehidupan kita ini sudah terangkum dalam ayat-ayat suciNya, bagaiman sikap dan tutur kata kita ini sudah ada contoh dari Sang suri tauladan, Nabiyullah Muhammad SAW, bagaimana kematian adalah sebaik-baik pengingat. Nah dari mentoring ini selalu menjadi pengingat saya, bahwa sebelum kematian tiba , bekal apa yang sudah saya siapkan?! Dari mentoring ini, saya siapkan bekal satu persatu. Untuk diri saya juga orang lain. Dari bekal mentoring ini saya mulai terus memahami makna kata dakwah yakni "saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran" (Q.S Al-'Asr: 3).


Saya dan hobi.

Saya mempunya hobi membaca, menulis, memasak, berbisnis, dan berorganisasi. Saya senang tempat perpustakaan dan toko buku, karena disana saya bisa menyalurkan hobi membaca saya. Saya senang buku-buku catatan dan media penulisan, karena disana saya dapat menuliskan apa saja yang sedang saya fikirkan. Saya senang makan, lhooo, hehe... Saya senang orang lain bahagia, salah satunya dengan menyalurkan hobi saya dengan memasak, karena penilaian masak bagi saya bukan dari enak atau mahal dari makanan tersebut. Tapi dari ekspresi orang yang mencicipi makanan saya :). Hobi berbisnis saya dimulai dari SMP, yakni sebagai penjual pulsa tanpa "counter", maksudnya saya tidak membuka counter pulsa, tapi cukup dengan modal kartu HP saya yang sudah ada saldo pulsa, maka bisnis pun jalan, alhamdulillaah :). Yang terakhir ini, tidak pernah ketinggalan dalam kehidupan saya, organisasi adalah sahabat setia saya, yang mengerti saya dan mengajarkan saya banyak hal.


Saya dan impian.

Pembaca, tiba juga di paragrap yang memang arti dari nama saya "harapan", saya mempunyai harapan hidup. Saya mempunyai balon-balon mimpi, yang sekarang sedang saya tiup pelan-pelan, hingga nanti berbentuk balon dan mengangkasa ke langit. Yaa itulah gambaran makna mimpi saya. Saya ingin menjadi "dokter sistem" di kehidupan saya dan orang lain. Saya ingin setiap langkah hidup saya memiliki arti kebermanfaatan untuk orang di sekitar saya. Saya ingin terus berkarya dan berkreasi, layaknya angin yang terus berhembus tanpa batas ruang dan waktu :)


Yah, demikianlah perkenalan dari saya yang sangat panjang yaa bukan dikit, hehe. Biasanya, banyak yang alergi matanya baca tulisan panjang ini. Yaa nda apa lah ya ;). Satu yang saya pastikan, pembaca akan tersenyum dengan tulisan saya ini, ^^.


Wassalamu'alaykum Warohmatullaah Wabarokaatuh…

Penalaran Deduktif dan Induktif

Pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi.

Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif.

Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu wujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.


1. Pengertian Penalaran

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu deduktif dan induktif.


2. Penalaran Deduktif

· Pengertian Penalaran

Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif tersebut dapat dimulai dari suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit. Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status social.

· Macam-macam Penalaran Deduktif

Macam-macam penalaran deduktif diantaranya :

a. Silogisme

Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan.

b. Entimen

Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.


3. Penalaran Induktif

· Pengertian Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut Induksi. Penalaran induktif tekait dengan empirisme. Secara impirisme, ilmu memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Sebelum teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat sementara. Penalaran induktif ini berpangkal pada empiris untuk menyusun suatu penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum.

Contoh :

Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun yang lalu, Ny. Ahmad sering sakit. Setiap bulan ia pergi ke dokter memeriksakan sakitnya. Harta peninggalan suaminya semakin menipis untuk membeli obat dan biaya pemeriksaan, serta untuk biya hidup sehari-hari bersama tiga orang anaknya yang masih sekolah. Anaknya yang tertua dan adiknya masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, sedangkan yang nomor tiga masih duduk di bangku SMA. Sungguh (kata kunci) berat beban hidupnya. (Ide pokok)

· Macam-macam Penalaran Induktif

Macam-macam penalaran induktif diantaranya :

1. Generalisasi

Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diminati generalisasi mencakup ciri – ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dan lain-lain.

Contoh generalisasi adalah setelah di adakan peninjauan dan penelitian lebih seksama, ternyata di kawasan bandung terdapat sekurang – kurangnya lima buah obyek wisata. Di kawasan Garu tempat obyek wisata, di kawasan tasikmalaya dan ciamis terdapat sekurang – kurangnya enam buah obyek wisata. Di daerah lain seperti suka bumi, banten, danyang lainnya juga terdapat obyek wisata. Dapat di katakan bahwa daerah jawa baratmemang kaya dengan obyek wisata.

Macam-macam generalisasi:

a. Generalisasi sempurna

Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki. Generalisasi macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki.

b. Generalisasi tidak sempurna

Adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.

2. Analogi

Analogi adalah membandingkan dua hal yang banyak persamaanya. Kesimpulan yang diambil dengan jalan analogi, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari beberapa pendapat khusus yang lain, dengan cara membandingkan situasi yang satu dengan yang sebelumnya.

Contoh analogi adalah alam semesta berjalan dengan teratur seperti jalannya sebuah mesin. Matahari, bumi, bulan dan bintang berjalan seperti teraturnya roda mesin. Semua bergerak menurutirama tertentu. Mesin itu penciptanya adalah manusia. Alampun demikian, ada yangmenciptakannya yaitu yang maha segalanya. Manusia tentunya senag dengan hasilcipta’annya. Demikian pula sang pencipta, sayang pada semua yang di ciptakannya.Oleh sebab itu, manusia harus bertaqwa kepadanya.


4. Korelasi Penalaran Deduktif dan Induktif

Kedua penalaran tersebut seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika. Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi.

Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.



Sumber tulisan:

1. NOENUK N. FAIZAH.1997, Bahasa dan sastra Indonesia, jombang.

2. Dra. VERO SUDIATI, A. WIDYAMARTAYA, 1995, Kiat dasar mengarang, Jakarta,yayasan pustaka nusantara.

3. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/02/penalaran-induktif-dan-deduktif-3/

4. http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran